Sabtu, 23 Juli 2011

Palatabilitas (pakan ikan)

Selama beternak ikan, Saya mencoba berbagai macam jenis pakan untuk ikan nila, lele, bawal dan gurame dengan fungsi tujuan yakni memaksimalkan biaya pakan dan menghasilkan keuntungan yang optimal dengan pertimbangan biaya, waktu, efektifitas dan efisiensi pakan.
Namun, dari berbagai jenis pakan yang dicobakan, ternyata ada hal terpenting yang diabaikan dan sebenarnya krusial bagi keberhasilan budidaya.
Hal tersebut adalah palatabilitas. Singkatnya, palatabilitas adalah kemampuan fisik dan kimia yang dimiliki bahan-bahan penyusun pakan. Palatabilitas ini adalah mengukur seberapa baik pakan bertahan didalam air dan tidak hancur, mempunyai nilai atraktif bagi ikan, dan mampu sepenuhnya dimakan ikan dengan meminimasi sisa pakan.
Sebelum mengetahui pentingnya palatabilitas, Saya hanya fokus kepada meramu jenis pakan dengan mengutak-atik nilai proteinnya saja tanpa pernah memperhatikan palatabilitas.
Output yang dihasilkan dengan meramu pakan dengan berbagai nilai protein dan jenis pakan tertentu sangat bervariasi dan memang memiliki nilai korelasi antar tiap perlakuan. Namun, yang menjadi perhatian saya adalah kenapa nilai konversi pakan itu begitu tinggi dan pakan yang di makan oleh ikan sangat tidak efisien jika dibandingkan dengan jumlah pakan yang diberikan.
Usut-punya usut, ternyata hal ini menyangkut palatabilitas pakan yang diberikan. Sebelumnya Saya memberi pakan ikan berupa larutan, pasta, emulsi, atau pakan kering sebesar kepalan tangan. Output yang terbaik yang diberikan dari ujicoba saya adalah 4:1 (yakni 4 kg pakan untuk tambahan 1 kg berat ikan lele [0.6 silase+ 0.4fermentasi ampas tahu]).
Keadaan menjadi berubah ketika saya berusaha meningkatkan palatabilitas pakan. Dari keinginan untuk mencari alternatif bagaimana menghancurkan kiambang dengan mesin gilingan daging, saya pun mencoba membuat pelet dengan ramuan pakan yang besarnya sesuai dengan lubang gilingan tersebut. Hasilnya sungguh diluar dugaan. FCR pada ikan bawal untuk ramuan yang saya buat mencapai 2.5, padahal ramuan tersebut belum merupakan ramuan optimal karena memiliki nilai protein yang belum optimal  ditambah dengan kecernaan serat yang tinggi (0.5ikan asin giling+0.5kiambang). Dan nilai FCR tersebut kemungkinan akan mengecil jika misalnya saya mengukus kiambang terlebih dahulu atau melanjutkan dengan fermentasi atau merubah hasil gilingan ikan asin tersebut menjadi silase untuk kemudian dijadikan pelet.
Hal yang juga memperkecil FCR yang saya sudah ujicoba adalah dengan menambah perekat yang sayangnya harga perekat alami dan buatan sangat mahal (CMC, tapioka dsb). Untungnya tulang ikan sendiri mengandung gelatin sebagai perekat.
Intinya, sebagus apapun ramuan pakan yang kita buat, tanpa didukung dengan palatabilitas maka sama saja dengan pemborosan. Pemberian pakan ikan rucah secara langsung, bangkai ayam dan sebagainya secara pasti tidak akan menghasilkan konversi pakan yang tinggi tanpa didukung palatabilitas pakan. Selain itu, tanpa palatabilitas, maka pakan akan mencemari perairan yang berbahaya bagi ikan.
Pakan bisa saja tidak dibuat menjadi pelet karena keadaan tertentu seperti keadaan ikan yang masih berupa larva atau benih gelondongan yang belum bisa menelan pelet, sehingga diberi pakan berupa larutan atau pasta. Namun, dalam kondisi tersebut alangkah lebih baik jika kualitas air kolam budidaya sangat diperhatikan sehingga kita tidak menghitung kerugian nantinya.

Kepadatan tebar

Beberapa orang bertanya kepada saya ketika mereka menemukan masalah mengenai kepadatan tebar ikan budidaya.
Diantaranya adalah bingung mengenai adanya jumlah yang tidak masuk akal untuk per meter kubiknya, dan ada pula yang kebingungan ketika mendapati data tebar yang berbeda antar sumber informasi.
Mengenai berapakah jumlah padat tebar maksimal untuk setiap wadah baik berupa empang, kolam, bak fiber, atau kolam terpal, sebaiknya kita tidak menelan bulat-bulat sumber informasi dari buku pedoman budidaya maupun sumber-sumber lainnya.
Kita pun jangan serta-merta menyalahkan buku pedoman atau informasi dari sesama pembudidaya ketika padat tebar yang kita aplikasikan ternyata tidak sesuai dengan apa yang diinformasikan.
Jika dalam buku pedoman budidaya diinformasikan bahwa kepadatan lele misalnya dapat mencapai 100 ekor per meter kubik, maka bukan berarti itu nilai mutlak bagi empang kita.
Prinsip utama dalam budidaya yang terpenting adalah think locally and act locally. Berfikir secara lokal dan bertindak secara lokal.
Informasi kepadatan tebar yang sangat padat dalam buku pedoman budidaya sebetulnya mengandung informasi yang tidak lengkap mengenai kondisi wadah budidaya. Dalam buku pedoman hanya disebutkan kepadatan maksimal yang bisa dicapai dalam luasan tertentu tanpa menjelaskan hal apa saja yang bisa dicapai untuk mencapai kondisi tersebut.
Semakin besar padat tebar, semakin besar pula usaha untuk mencapai keadaan tersebut. Yakni, pemberian pakan yang intensif sehingga survival rate dari ikan bisa dipertahankan, pergantian air sebesar persentase tertentu dari volume wadah, pengaturan aerasi, pengaturan ukuran dari ikan, dan hal lainnya yang sering diabaikan oleh buku.
Jika kita memiliki empang tergenang, tidak pernah mengganti air hingga panen, pemberian pakan yang fluktuatif, menanam ikan yang cendrung karnivor, maka jangan harap nilai kepadatan yang maksimal sesuai buku pedoman bisa tercapai.
Tapi, disatu sisi, kita pun ingin tahu sebenarnya berapa besar kepadatan tebar optimal yang bisa dimaksimalkan di empang kita.
Pertanyaan ini cendrung berisiko dan berbiaya untuk dijawab.
Hal yang paling mudah dilakukan adalah uji destruktif. Yakni suatu uji coba dengan cara membeli ikan dalam ukuran panen dan melihat sebarapa besar jumlah ikan yang hidup untuk setiap pertambahan jumlah ikan per meter kubiknya. Nilai ini juga bisa didapat ketika kita hendak panen pertama kalinya. Jika untuk panen pertama anda berhasil dengan jumlah ikan tertentu, maka cobalah untuk meningkatkan jumlah kepadatan tebar untuk periode tanam berikutnya. Suatu saat bahkan anda akan menemukan hal yang begitu eksak dimana penambahan berat 1 kg dalam kepadatan tebar bisa menimbulkan kematian ikan budidaya dan menyebabkan penyakit.
Disamping jumlah kepadatan tebar ketika ukuran panen, anda juga harus memperhatikan jumlah kepadaan tebar ketika pertama kali menanam ikan. Bisa jadi ikan yang mati dalam jumlah masal bukan berasal dari penyakit melainkan dari kepadatan tebar. Atau bisa jadi penyakit yang ditimbullan berasal karena kepadatan tebar yang tidak sesuai dengan wadah budidaya anda.
2 hal diatas adalah cara yang berisiko tetapi sangat efektif. Cara yang paling tidak beresiko dan aman adalah dengan cara membuat model kepadatan tebar dengan cara mengolah data-data dari pembudidaya sekitar anda. tools yang digunakan macam-macam. Bisa menggunkan model dinamis, regresi sederhana antara jumlah yang ditebar dengan jumlah yang dipanen per meter kubik, atau bahkan dengan sofwere pemodelan.
Initnya, kepadatan tebar sebetulnya sangat bergantung pada daya dukung wadah anda. Daya dukung diantaranya yakni jumlah oksigen terlarut dalam kolam sebelum ikan-ikan anda berhasil untuk mneghirup oksigen diudara, dan berapa besar waktu recovery wadah budidaya untuk kembali kepada keadaan oksigen terlarut normal buat ikan. Oksigen terlarut sendiri banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor selain jumlah kepadatan tebar ikan yang menghirup oksigen. Faktor -faktor tersebut diantaranya adalah bagaimana air masuk kedalam kolam,  apakah air mengalir atau tidak, jumlah pakan yang diberikan, suhu kolam, luas permukaan kolam, dan sebagainya. Selain faktor oksigen terlarut, kepadatan tebar juga sangat bergantung pada ammonia yang dihasilkan perairan budidaya karena bersifat racun bagi ikan budidaya. Hal yang juga penting adalah mengenai karakteristik ikan. Tipe-tipe ikan yang cendrung demersal jelas berbeda yang tipe pelagik. Ikan yang kecendrungan karnivor jelas berbeda dengan herbivor. Ikan pemakan plankton jelas berbeda dengan ikan pemakan zooplankton.
Jadi  kenalilah empang anda dan pahami asumsi yang menyertainya.

Membuat Pakan Ikan (Silase)

Pembuatan Silase
- Giling Ikan rucah asin sampai halus.
- Jika tidak mempunyai gilingan daging, ikan dikukus lebih dahulu, kemudian di blender dengan meminimalkan penggunaan air
- Tambahkan asam klorida atau asam formiat (dapat dibeli di toko kimia) dengan komposisi 3% dari berat kering.
- Aduk 3 kali sehari selama 5 hari dan dibiarkan tertutup dalam wadah atau silo.
- Simpan dalam keadaan tertutup.
- Silase dapat disimpan kurang lebih selama 3 bulan dan selama itu bisa dicampur dengan bahan pakan lain sesuai kebutuhan.
- Pembuatan Silase dapat meningkatkan kandungan protein, memecah rantai protein yang panjang menjadi lebih pendek, karena asam tersebut merupakan katalisator bagi enzim protease (enzim pemecah protein) yang ada dalam tubuh ikan.
- Semakin pendek rantai protein, semakin mudah protein diserap, semakin efisien dan cepat pertumbuhan ikan.
- Jangan lupa memakai sarung tangan karet.
Protein up to 50%

Pakan Ikan Sistem Fermentasi

Mungkin kita bertanya apa manfaatnya pakan ikan yang difermentasi. Seperti kita ketahui, ikan tidak memiliki sistem pencernaan yang lengkap seperti halnya hewan ruminansia dalam mencerna karbohidrat. Hewan ruminansia biasanya memiliki enzim-enzim pemecah serat, selulosa dan hemiselulosa, sehingga pakan bisa diserap optimal oleh hewan tersebut. Meskipun ada perdebatan mengenai seberapa besar manfaat karbohidrat dalam tubuh ikan, namun yang pasti, semakin mudah karbohidrat dicerna maka semakin besar probabilitas protein digunakan untuk pertumbuhan, sehingga semakin cepat ikan tumbuh. Jika karbohidrat tidak terserap karena kandungan serat yang tinggi, maka ikan akan mengambil sumber energi metabolisme dari protein, sehingga pertumbuhan kurang maksimal. Selain itu, bahan-bahan sumber protein biasanya cendrung mahal. Sebagai contoh adalah tepung kedelai, tepung ikan, tepung udang dan sebagainya. Jika pun ada alternatif sumber protein nabati yang murah, kandungan serat tinggi inilah yang menyebabkan protein tidak bisa diserap dan dibuang percuma dalam feses. Gambaran sederhana tentang fermentasi adalah kita melakukan usaha layaknya pengkondisian makanan yang dicerna dalam tubuh hewan ruminansia (sapi dan teman-temannya), untuk mendapatkan kualitas makanan yang sama dengan yang ada di perut hewan ruminansia tersebut, namun dilakukan diluar tubuh hewan itu. Dengan kata lain adalah mendapatkan kualitas makanan sama seperti yang didapat dari tubuh sapi, digunakan untuk pertumbuhan ikan. Cara untuk melakukan fermentasi macam-macam. Misalnya dengan menggunakan ragi, jamur, asam-asaman, enzim-enzim pencernaan, mikroba yang telah dikultur dan lain-lain. Bahan fermentasinya juga bermacam-macam, mulai dari ikan, biji-bijian, jerami, dedak, kangkung air, kiambang, eceng gondok dan lain-lain. Harapan dari fermentasi ini adalah mempercepat pertumbuhan ikan. Dengan fermentasi, kadar protein akan meningkat sampai 8%. Kadar protein yang meningkat tersebut berasal dari organisme kecil yang mengubah bahan yang difermentasi menjadi protein dengan mengikat nitrogen bebas dari udara. Karena ada produksi protein itulah sehingga wajar jika kandungan proteinnya meningkat. Dengan kandungan protein yang lebih tinggi, maka akan mengurangi penggunaan campuran yang berasal dari sumber protein hewani seperti tepung ikan, dan imbasnya adalah mengurangi biaya pakan. Karena fermentasi pulalah dinding sel tumbuhan yang susah dicerna, yang biasanya ikut juga membawa zat-zat makanan kedalam feses, bisa dikurangi. ( itulah sebabnya kenapa kita butuh serat untuk mempermudah buang air). Konsep mengenai manfaat serat untuk manusia dan ikan harus benar-benar kita pahami. Manusia yang telah selesai masa pertumbuhannya, membutuhkan serat untuk melancarkan pencernaan, mengurangi timbunan lemak , sehingga mendapatkan tubuh langsing dan sehat. Ikan menghindari serat karena tujuan budidaya ikan adalah bukan untuk melangsingkan ikan tetapi justru menggemukkan ikan sehingga kadar serat harus diperhatikan. Fermentasi merupakan jawaban untuk meningkatkan kecernaan dengan mengurangi kadar serat dan meningkatkan protein.
Mungkin kita bertanya apa manfaatnya pakan ikan yang difermentasi. Seperti kita ketahui, ikan tidak memiliki sistem pencernaan yang lengkap seperti halnya hewan ruminansia dalam mencerna karbohidrat. Hewan ruminansia biasanya memiliki enzim-enzim pemecah serat, selulosa dan hemiselulosa, sehingga pakan bisa diserap optimal oleh hewan tersebut. Meskipun ada perdebatan mengenai seberapa besar manfaat karbohidrat dalam tubuh ikan, namun yang pasti, semakin mudah karbohidrat dicerna maka semakin besar probabilitas protein digunakan untuk pertumbuhan, sehingga semakin cepat ikan tumbuh. Jika karbohidrat tidak terserap karena kandungan serat yang tinggi, maka ikan akan mengambil sumber energi metabolisme dari protein, sehingga pertumbuhan kurang maksimal. Selain itu, bahan-bahan sumber protein biasanya cendrung mahal. Sebagai contoh adalah tepung kedelai, tepung ikan, tepung udang dan sebagainya. Jika pun ada alternatif sumber protein nabati yang murah, kandungan serat tinggi inilah yang menyebabkan protein tidak bisa diserap dan dibuang percuma dalam feses. Gambaran sederhana tentang fermentasi adalah kita melakukan usaha layaknya pengkondisian makanan yang dicerna dalam tubuh hewan ruminansia (sapi dan teman-temannya), untuk mendapatkan kualitas makanan yang sama dengan yang ada di perut hewan ruminansia tersebut, namun dilakukan diluar tubuh hewan itu. Dengan kata lain adalah mendapatkan kualitas makanan sama seperti yang didapat dari tubuh sapi, digunakan untuk pertumbuhan ikan. Cara untuk melakukan fermentasi macam-macam. Misalnya dengan menggunakan ragi, jamur, asam-asaman, enzim-enzim pencernaan, mikroba yang telah dikultur dan lain-lain. Bahan fermentasinya juga bermacam-macam, mulai dari ikan, biji-bijian, jerami, dedak, kangkung air, kiambang, eceng gondok dan lain-lain. Harapan dari fermentasi ini adalah mempercepat pertumbuhan ikan. Dengan fermentasi, kadar protein akan meningkat sampai 8%. Kadar protein yang meningkat tersebut berasal dari organisme kecil yang mengubah bahan yang difermentasi menjadi protein dengan mengikat nitrogen bebas dari udara. Karena ada produksi protein itulah sehingga wajar jika kandungan proteinnya meningkat. Dengan kandungan protein yang lebih tinggi, maka akan mengurangi penggunaan campuran yang berasal dari sumber protein hewani seperti tepung ikan, dan imbasnya adalah mengurangi biaya pakan. Karena fermentasi pulalah dinding sel tumbuhan yang susah dicerna, yang biasanya ikut juga membawa zat-zat makanan kedalam feses, bisa dikurangi. ( itulah sebabnya kenapa kita butuh serat untuk mempermudah buang air). Konsep mengenai manfaat serat untuk manusia dan ikan harus benar-benar kita pahami. Manusia yang telah selesai masa pertumbuhannya, membutuhkan serat untuk melancarkan pencernaan, mengurangi timbunan lemak , sehingga mendapatkan tubuh langsing dan sehat. Ikan menghindari serat karena tujuan budidaya ikan adalah bukan untuk melangsingkan ikan tetapi justru menggemukkan ikan sehingga kadar serat harus diperhatikan. Fermentasi merupakan jawaban untuk meningkatkan kecernaan dengan mengurangi kadar serat dan meningkatkan protein.

Fermentasi Dedak Untuk Pakan Ikan

Fermentasi untuk dedak ini saya buat menjadi 2 jenis fermentasi
Fermentasi Asam Laktat
Cara pembuatannya adalah sebagai berikut :
  • Layukan kubis atau kol, kangkung, genjer, sawi dan sayuran lain semalaman
  • Biar lebih murah, bahan-bahan tersebut bisa didapat dengan cara mengumpulkan limbah pasar pagi yang bisa diambil ketika pasar sudah mulai sepi.
  • Sayuran tersbut bisa diiris-iris kecil- kecil, ditepungkan atau di blander untuk mengambil saripati dari sayur tersebut.
  • Semakin kecil butir sayur, semakin bagus proses fermentasi berjalan.
  • Sayuran yang telah diiris-iris kecil dicampur dengan air tajin yang sudah diberi garam +- 5% dari pelarutnya.
  • kadar air yang digunakan +- 90% dari berat sayuran.
  • air tajin digunakan sebagi medium tumbuh bakteri asam laktat
  • simpan dalam tempat tertutup dan gelap selama +-3 hari dalam suhu kamar
  • Usahakan tempat yang digunakan steril dari kuman dan bakteri patogen
  • Campur dengan dedak, perbandingan 1 :10. yakni 10% bahan fermentasi dari berat dedak
  • simpan ditempat tertutup dan jangan sampai terkena udara +- 1 minggu
  • Keringkan dedak, dan siap di campur dengan bahan-bahan lain sesuai dengan kebutuhan nutrisi ikan.
Fermentasi Alkohol
Pada dasarnya prinsipnya sama dengan ferrmentasi asam laktat, namun bahan yang digunakan adalah ragi khamir. Penggunaan ragi +- 1% dari berat kering dedak. Caranya adalah ragi dihancurkan dan dicampur kedalam air yang memiliki berat sampai dengan 60% dari berat kering dedak. kemudian aduk secara homogen dan ditutup rapat pada kondisi suhu kamar. Simpan selama 3 hari. Setelah disimpan, jemur dedak, dan kemudian campur bahan dedak dengan bahan lain untuk meramu pakan ikan. Hasil fermentasi alkohol ini biasanya lebih baik dari pada fermentasi asam laktat, namun biaya yang dikeluarkan cendrung mahal.

Cara membuat tepung ikan tanpa mesin penepung (Blender)

Berikut cara membuat tepung ikan dengan menggunakan blender.
  • Beli ikan rucah kering sesuai kebutuhan
  • Kukus ikan rucah tersebut kira-kira 1/2 jam sampai bentuknya hancur
  • Jemur ikan rucah tersebut kira-kira sampai bisa di blender. Jika hari cerah, biasanya cukup 1/2 hari dijemur.
  • Blender ikan yang sudah dijemur dengan blender yang khusus untuk mengolah bahan kering.
  • Tepung ikan siap digunakan sesuai komposisi kebutuhan  ikan anda.
  • Untuk menambah tingkat konversi pakan, tepung ikan dapat disaring dengan saringan tepung, dengan sistem penyaringan bertingkat, mulai dari lubang saring yang terbesar.
  • Untuk menghilangkan bau ikan selama penjemuran,  bahan ikan dapat dicampur dengan bahan lain seperti tepung biji-bijian, dedak dan sejenisnya, namun dalam takaran yang terkontrol.
  • Jika tepung ikan yang dihasilkan dari saringan tepung terlalu sedikit, maka hasil tingkatan diatasnya bisa digunakan untuk membuat campuran pakan dengan catatan perhatikan sisa pakan ketika panen.

Pakan Bawal

Pakan ini telah saya coba dengan diberikan kepada ikan bawal sebanyak 9 ekor dengan berat rata-rata 40 gram.  Ikan diberi pakan sebabyak 5.56% dari biomassa tubuhnya selama 1 minggu. Dari hasil coba-coba, didapat bahwa total pemberian pakan yang diberikan adalah 140 gram, dan menghasilkan tambahan berat badan sebesar 120 gram (rerata barat badan pada pengukuran akhir adalah 53.33).
Karena tidak ada yang mati, maka nilai konversi pakan adalah
FCR = 140/120 = 1.167
Cara pembuatan pakannya adalah sebagai berikut :
  • Campur tepung ikan asin dan dedak dengan perbandingan 1:1
  • Pastikan bahwa tepung ikan dan dedak tercampur secara merata.
  • Wajib hukumnya bahwa butiran dedak dan tepung ikan harus sekecil mungkin dan untuk memperolehnya dilakukan dengan mengayak dengan ayakan tepung.
  • Ketika mencampurkan bahan tersebut, diberi air sebesar  1/3 dari total berat dedak-tepung ikan.
  • Air yang digunakan sudah dilarutkan dengan vitamin dan mineral komplit paling banyak 1 % dari total jumlah pakan yang akan dibentuk.
  • Giling campuran tersebut dengan mesin pencetak pelet baik manual maupun otomatis, atau dengan giligan daging.
  • Wajib hukumnya memastikan bahwa ukuran pelet yang dibentuk, dapat ditelan bulat-bulat oleh mulut ikan bawal.
  • Keringkan dalam keadaan matahari terik.
  • Pakan bawal siap di berikan ke ikan.
  • Jika kualitas dedak dan tepung ikan yang diberikan ternyata jelek dan menyisakan banyak abu ketika pelet sudah di keringkan, maka bisa diberikan perekat semisal gaplek sebanyak 4% total berat.
  • Atau bisa juga dengan mengukus pelet yang telah jadi tersebut paling lama 10 menit, karena pengukusan yang lama bisa membuat bau ikan berkurang, sehingga nafsu makan ikan menurun.